Categories

Cerita Seks : BRONDONG PEMUAS TANTE|| KlubDewasa.Com

cerita-seks-brondong-pemuas-tante-klubdewasa
cerita-seks-brondong-pemuas-tante

KlubDewasa Cerita Seks Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum Terbaru – BRONDONG PEMUAS TANTE.Hubunganku dengan tante Meri memang sudah sangat jauh, hingga sekarang aku masih saja berhubungan dengan tante Meri. GairahSex tante Meri yang membuat kita sampai sekarang masih berhubungan, karena menurutnya, dia hanya bisa mendapatkan kepuasan Sex hanya denganku.

Tante Meri ini usianya sudah 37 tahun. Di  usia sudah tidak muda lagi, dia masih memiliki GairahSex yang kuat. Tante Meri juga rajin merawat diri.Namaku  Heru , umurku saat ini 22 tahun, aku masih kuliah. Memiliki perawakan yang sangat menarik, dari ABG bahkan tante-tante. Dengan tinggi 181cm serta berat badan yang proposional ditambah badanku yang sixpack.

Tentu saja aku rajin olah raga untuk menjaga staminaku. Karena dalam berhubungan badan, tante Meri selalu meminta berbagai gaya. Tentunya agar mendapat kepuasan surgawi.

HoyaJackpot

Suatu hari tante Meri menghubungiku untuk bertemu disebuah mall. Seperti  biasa aku bergegas menuruti keinginan tante Meri. Dan sampailah aku direst sebuah mall yang sudah ditentukan oleh tante Meri. Namun disana aku melihat tante Meri tidak sendirian.
Dia bersama seorang temannya yang aku tafsir umurnya seumuran dengannya. Namun dari pandanganku teman tante Meri ini lebih menarik. Dia lebih cantik, tubuhnya lebih seksi dan wajahnya yang juga terlihat lebih bergairah. Lau dikenalkannya aku dengan teman tante Meri tersebut. Namanya adalah tante  Vera . Seorang tante yang sudah menjada 3 tahun.
 

Kami ngobrol ber tiga dengan sangat asyik… seperti sudah saling mengenal.  hingga tante Meri memintaku untuk menemaninya dan tante  Vera  untuk jalan-jalan mencari pakaian.

Aku pun seperti biasa hanya mengikuti tante Meri dan tante  Vera  dari belakang sambil aku memandangi tubuh tante  Vera  yang sangat aduhai sekali. Bodynya tidak sesuai dengan usianya, karena bodynya masih mirip dengan gadis-gadis ABG jaman sekarang.
 
Waktu sudah agak sorean menjelang malam, dan tante  Vera  pun memutuskan untuk pulang.  “Oke, Mer. Aku pulang dulu ya, hampir sore nih.
Sampai ketemu lagi  Heru ” kata Tante  Vera  sambil tersenyum penuh arti kepadaku yang membuat aku tambah bingung dan dia melenggang menuju carcall untuk memanggil sopirnya. Sepeninggal Tante  Vera kami menuju food court untuk membeli minum dan istirahat. “ Her , menurut kamu Tante  Vera gimana?” tanye Tante Meri padaku setelah membeli minum dan duduk ditempat yang agak memojok dan meminum minumannya.
 
“Mmm.. gimana apanya Tante?” jawabku bingung mendengar pertanyaan Tante Meri sambil menyedot minuman ringan yang aku pesan.
 
“Ah kamu ini, pura-pura nggak ngerti apa emang nggak ngerti? Ya sifat orangnyalah, bodynyalah, facenyalah dan lain-lainnyalah” jawab Tante Meri agak sewot.
 
“Oo, kalo sifatnya sih saya belum tau bener, kan baru sekali ketemu, tapi keliatannya orangnya baik dan ramah, terus kalo face dan bodinya mm.. biasa-biasa aja tuh” jawabku sambil tersenyum.
 
“Emang kenapa Tante, kok Tante tanya gitu? Bikin aku bingung aja. Terus tadi ngomongin apa sih? Kok pake bisik-bisik terus Tante  Vera  jadi aneh sikapnya” tanyaku pada Tante Meri.
 
“ Her , kamu tahukan kalo Tante  Vera  itu sudah lama hidup sendiri sejak pisah sama suaminya. Nah tadi waktu Tante  Vera  lihat kamu dia langsung tertarik sama kamu, dan dia nanyain tentang kamu terus ke Tante sebab dia nggak percaya kalo kamu itu keponakan jauh Tante, jadi Tante terpaksa cerita dech kedia siapa kamu sebenernya.
 
Kamu jangan marah ya, abis Tante  Vera  itu suka maksa kalo keinginannya belum kesampaian” jawab Tante Meri.
 
“Terus.. mm.. dia pengen sama kamu  Her .. gimana? Kamu mau nggak?” tanya Tante Meri dengan wajah serius.
 
“Wah gimana ya, repot juga nich kalo sampai dia ngomong-ngomong ke orang lain, bisa tercemar nama Tante. Kalo menurut Tante dia bisa jaga rahasia kita dengan cara gitu ya sudah, saya akan layani dia” jawabku serius juga.
 
“Tapi nanti kamu jangan lupain Tante ya kalo sudah dekat sama dia” kata Tante Meri was-was.
 
“Ah Tante ini ada-ada saja, nggak mungkinlah saya lupa sama Tante, sayakan kenal Tante dulu baru Tante Vera ” jawabku menghibur Tante Meri yang terlihat agak sedih dari ekspresi mukanya.
 
“Yah.. sapa tahu kamu bisa dapet lebih dari Tante  Vera  dan lupain Tante deh” katanya lagi sambil menghembuskan nafas.
 
“Jangan kuatir Tante, saya bukan tipe orang yang gampang ngelupain jasa baik orang kepada saya, jadi Tante tenang saja” jawabku kemudian.
 
“Okelah kalo gitu nanti Tante hubungi Tante  Vera , biar dia nanti hubungi kamu” kata Tante Meri kemudian. Setelah itu Tante Meri lebih banyak diam entah apa yang ada dalam pikirannya dan tak lama kemudian kamipun pulang.
 
Malamnya Tante  Vera  menghubungi aku lewat telepon. “Hallo  Heru , ini Tante  Vera  masih ingatkan?” tanya Tante  Vera  dari seberang.
 
“O iya masih, kan baru tadi siang ketemu, ada apa Tante?” jawabku sambil bertanya.
 
“Tadi Tante Meri sudah cerita belum sama kamu tentang Tante?” tanyanya lagi.
 
“Sudah sih, mm.. memang Tante serius?” tanyaku lagi pada Tante  Vera .
 
“Serius dong, gimana kamu okekan?” tanya Tante  Vera  lagi.
 
“Kalo gitu oke dech” jawabku singkat. Lalu kami bercakap-cakap sebentar dan kami akhirnya kami janjian besok pagi dilobby hotel “XX” didaerah jakarta barat dan dia akan datang lebih awal karena akan check-in dulu, setelah itu teleponpun ditutup.
 
Keesokannya seperti biasa aku memakai baju rapi seperti orang kerja supaya tidak terlalu menyolok dan aku menunggu di lobby hotel tersebut karena aku juga datang lebih awal, tak lama aku menunggu teleponku berdering.
 
“Hallo  Heru , ini Tante  Vera . Tante sudah ada diatas, kamu langsung naik aja di kamar 313 oke? Tante tunggu ya” kata Tante beritahukan kamarnya.
 
“Oke Tante saya segera kesana, saya juga sudah di lobby” jawabku singkat dan menutup pembicaraan. Setelah mematikan teleponku agar tidak diganggu, aku naik lift menuju kamar Tante  Vera . Sampai didepan pintu kutekan bel dan Tante  Vera  membukakan pintu.
 
“Ayo masuk, udah daritadi Tante sampai dan langsung check-in. O ya, kamu mau minum atau mau pesan makan apa? tadi sih Tante sudah pesan makan dan minum untuk dua orang, tapi kalau kamu mau pesan yang lain pesan saja, jadi sekalian nanti diantarnya” kata Tante  Vera  sambil mempersilahkan aku masuk dan menutup pintu.
 
“Yah sudah kalau Tante sudah pesan, nggak usah pesan lagi, nanti kebanyakan makanan malah bingung” jawabku.
 
“Kok bingung kan buat gantiin tenaga kamu he he he” jawab Tante  Vera  bercanda. Kemudian Tante  Vera duduk di sofa besar yang ada didalam kamar itu dan aku duduk di sebelahnya, kami berbincang-bincang sambil menonton TV lalu aku mendekati Tante  Vera  dan memeluk pundaknya, kemudian Tante  Vera merebahkan kepalanya kepundakku, kubelai rambutnya dan kukecup kening Tante  Vera .
 
“Mmm.. kamu romantis ya  Her , pantes Meri suka sama kamu. hh.. sudah lama Tante nggak merasakan suasana romantis seperti ini” kata Tante  Vera  sambil menghembuskan nafas. “Ya sudahlah Tante, yang penting hari ini Tante akan merasakan hangat dan romantisnya cinta, karena hari ini aku milik Tante sepenuhnya” jawabku menghibur dia sambil kukecup lagi keningnya.
 
Tante  Vera  menatapku sendu sambil tersenyum. “Terima kasih sayang” kata Tante  Vera . Dan kutatap matanya yang sendu dalam-dalam lalu kukecup bibirnya. Kecupanku dibibirnya perlahan berubah menjadi ciuman lembut yang dibalas Tante  Vera  dengan lembut juga, sepertinya Tante  Vera  benar-benar ingin merasakan nikmatnya berciuman yang sudah lama tidak dirasakannya.
 
Kami saling cium, saling kulum, dan saling memainkan lidah. Kugelitik lidah Tante  Vera  dengan lidahku dan kusapu langit-langit mulutnya sambil kupeluk tubuhnya dan kuraba wajah dan tengkuk serta lehernya dengan tanganku yang lainnya.
 
“Ahh sayang, aku suka sekali ciuman kamu, mm.. ciuman kamu lebut dan merangsang, mm.. kamu memang pintar berciuman, ahh.. ayo sayang beri Tante yang lebih dari ini” kata Tante  Vera  disela-sela ciuman kami dan berciuman lagi.
 
Tanganku mulai bergerak meremas kedua payudara milik Tante  Vera  bergantian. Tapi aksi kami terganggu oleh pelayan yang mengantar makanan yang dipesan oleh Tante  Vera . Setelah pelayan keluar dan Tante  Vera  memberikan tip, tiba-tiba Tante  Vera  menabrak aku dan mendorong aku hingga terjatuh diatas tempat tidur dan dengan buas dia langsung memelorotkan celana dan celana dalamku, hingga penisku yang masih tidur terbebas dari sarangnya dan langsung diterkam olehnya.
 
Disedot, dikulum dan digigitnya penisku yang mulai bangkit dengan napsu dan buas, dan kedua tangannya tak henti-henti mengocok dan memainkan kedua bolaku. “Ahh Tante.. pelan-pelan Tante.. ahh.. enak sekali Tante.. ohh” desahku menahan nikmat yang diberikan oleh Tante  Vera  padaku. Tanganku hanya bisa meremas rambut Tante  Vera  dan seprei kasur yang sudah mulai berantakan, tak lama kemudian kulepaskan kepala Tante  Vera  dari penisku, kuangkat Tante  Vera  dan kurebahkan dikasur.
 
“Sekarang giliranku, Tante diam saja dan nikmati permainan ini ya” kataku sambil mengecup bibir Tante Vera  dan mulai mencumbu Tante  Vera  sementara Tante  Vera  hanya diam saja sambil menatapku dengan sendu.
 
Kumulai cumbuanku dengan menciumi bibirnya dan perlahan turun kelehernya sambil kubuka kancing baju Tante  Vera  satu persatu sambil terus turun kedadanya. Setelah kancing bajunya terbukan semua. Kuraih pengait BH yang ada dibelakang dan kubuka sehingga ikatan BHnya terbuka dan ku lepaskan BH Tante  Vera  lewat kedua tangannya tanpa melepas baju Tante  Vera , setelah lepas langsung kuciumi kedua payudara Tante  Vera .
 
Kuciumi seluruhnya kecuali putingnya yang sudah berdiri mengacung minta dikulum tapi tidak pernah kukulum, setiap kali ciuman dan jilatanku sudah dekat dengan putingnya ciuman dan jilatanku turun lagi kepangkal payudaranya dan terus turun sampai ke perut dan bermain-main dipusar sambil kujilati lubang pusar Tante  Vera  lalu naik lagi terus berulangkali, kusingkap rok yang dipakai oleh Tante  Vera kemudian tanganku mulai bekerja meraba-raba paha dan lutut Tante  Vera  lalu mulai melepaskan celana dalam yang dipakai oleh Tante  Vera .
 
Ketika permainan mulutku mencapai perutnya kutarik celana dalam Tante  Vera , dan Tante  Vera mengangkat pantatnya sehingga celana dalamnya dengan mudah lepas dari tempatnya. Kupelorotkan celana dalam Tante  Vera  sampai sebatas lutut lalu ciumanku naik lagi kearah payudaranya. Dan ketika jilatanku mendekati puting Tante  Vera  tangankupun mendekati vagina Tante  Vera  dan ketika bibir dan lidahku mulai memainkan puting Tante  Vera  tangan dan jari-jariku juga mulai bermain dibibir vagina Tante  Vera  yang ternyata sudah basah.
 
Ketika kukulum puting Tante  Vera  yang sudah berdiri dari tadi kumainkan juga kelentitnya dengan jari-jari tanganku yang seketika itu juga membuat tubuh Tante  Vera  melengkung keatas.
 
“Akhh..  Heru .. kamu benar-benar gila, kamu kejam sekali mempermainkan Tante.. akhh..  Heru  enak sayang.. akhh.. gila.. kamu bener-bener gila sayang” teriak Tante  Vera  histeris sambil tangannya meremas seprei dan rambut kepalaku bergantian.
 
Tak kuhiraukan teriakan Tante  Vera  dan aku terus mengulum kedua puting dan menjilati kedua payudara Tante  Vera  bergantian. Tak lama kemudian kurasakan vagina Tante  Vera  bertambah basah dan tubuhnya mulai bergetar keras yang disertai erangan-erangan, akhirnya Tante  Vera  mendapatkan orgasme pertamanya.
 
Pada saat tubuhnya mulai tenang, kulepaskan cumbuanku di payudaranya dan langsung kuangkat kedua kakinya sehingga kepalaku dengan mudah menuju kevaginanya dan langsung kujilat dan kukulum serta kusedot-sedot vagina dan kelentit Tante  Vera .
 
“Akhh.. ahh.. gila.. ini namanya penyiksaan kenikmatan.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh.. aku nggak kuat lagi sayang.. ahh.. terus sedot yang kuat sayang.. ahh.. tusuk dengan jarimu sayang.. ahh.. tusuk yang kuat.. ahh sayang.. Tante mau.. ahh.. mau dapet lagi sayang.. ahh.. kamu benar-benar gila” teriak Tante  Vera  histeris memohon, lalu tubuhnya mulai bergetar lagi merasakan orgasme kedua yang datang menghampirinya.
 
Kuturuti permintaanya dengan menusukan jariku dan kumainkan jariku dengan menyentuhkan jariku kedinding vaginanya yang berkedut-kedut sambil terus bibir dan lidahku memainkan perannya dikelentit Tante  Vera .
 
Tubuh Tante  Vera  bergetar keras dan pinggulnya bergoyang-goyang mengikuti irama tusukan jariku sambil tak henti-hentinya menjerit-jerit histeris sambil kedua tangannya meremas dan menjambak-jambak rambutku.
 
“Ahh..  Heru y.. sayang.. ahh.. enak sayang.. ahh.. sodok yang keras sayang.. ahh.. sedot itilku yang kuat.. ahh.. yang kuatt..
 
” jerit histeris Tante  Vera  mengantar orgasmenya yang kedua itu. Dan ketika tubuh Tante  Vera  sudah hampir tenang lagi, kuhentikan juga semua aktivitasku dan kulepas celana dalam Tante  Vera  yang masih sebatas lulut sehingga lepas semua.
 
Lalu kuatur posisiku dan kutusukkan penisku kedalam lubang vagina Tante  Vera . “Okhh.. jangan dulu sayang.. jangan.. ahh.. stop sayang.. stop.. biar Tante istirahat dulu” pinta Tante  Vera  padaku, tapi aku tidak menghiraukan permintaanya sambil terus kutusukan penisku sampai masuk seluruhnya dan mulai kugoyang, kuputar dan kukocok penisku dalam vagina Tante  Vera .
 
Tak lama kemudian kuangkat tubuh Tante  Vera  hingga posisi Tante  Vera  kini dalam pangkuanku, dan dalam posisi Tante  Vera  sedang menaik turunkan pantat dan menggoyangkan pinggulnya kulepas baju Tante  Vera  yang masih melekat dan kulemparkan entah kemana lalu kubuka pengait dan resleting rok Tante  Vera  dan kulepas rok Tante  Vera  dari atas dan kulemparkan juga entah kemana hingga kini tidak ada selembar benangpun yang menempel ditubuh Tante  Vera  lalu akupun melepaskan bajuku sendiri dan kulemparkan sembarangan.
 
Setelah melepaskan baju mulai kuputar-putar pantatku hingga penisku lebih menggesek dinding vagina Tante  Vera . “Akhh.. sayang.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh.. kamu.. ahh.. kamu memang gila.. ohh.. penis kamu benar-benar.. ahh.. kamu pintar sekali sayang.. pintar dan gila.. ahh.. Tante mau.. ahh.. mau keluar lagi.. ahh.
 
Tante nggak kuat lagi sayang.. ahh” jerit Tante  Vera  histeris dan tubuhnya mulai bergetar mendapat orgasmenya yang ketiga, kurasakan cairan diliang vagina Tante  Vera  bertambah banyak dan kurasakan juga kedutan-kedutan dari dinding vagina Tante  Vera .
 
Lalu kurebahkan tubuh Tante  Vera  dan terus kugenjot penisku didalamnya yang sekali-kali kuputar-putar pinggulku, tubuh Tante  Vera  tambah bergetar dengan kencang, goyangan dan kocokan penisku juga tambah kencang.
 
Lalu kumainkan tanganku dikelentitnya sambil kurebahkan kepalaku kedadanya dan kusedot dan kukulum dengan kuat juga kedua puting Tante  Vera  bergantian dan kedutan-kedutan dinding vagina Tante  Vera  juga bertambah kuat sehingga penisku merasakan sensasi yang membuat aku merasakan sesuatu yang akan segera meledak keluar.
 
“Akh.. Tante aku mau keluar Tante.. akhh.. aku keluar Tante” kataku disela-sela kuluman mulutku diputingnya sambil terus mengocok penisku dengan cepat dan kuat dalam liang vagina Tante  Vera .
 
“Ahh.. iya sayang.. ahh.. keluarkan saja.. ahh.. Tante juga.. ahh.. sudah nggak kuat lagi.. ahh” teriak Tante Vera  dan memelukku dengan erat sambil tubuhnya terus bergetar, kurasakan kuku-kukunya mencakar punggungku.
 
Lalu meledaklah cairan kenikmatan yang kukeluarkan dalam vagina Tante  Vera  yang sudah basah sehingga bertambah basah lagi, ketika kenikmatanku meledak dan tubuhku bergetar kenikmatan kukocok dengan keras dan kuat penisku dalam vagina Tante  Vera  sehingga ada cairan yang keluar dari dalam vagina Tante  Vera  yang kurasakan dari tanganku yang basah karena masih memainkan kelentit Tante Vera .
 
Tubuh kami sama-sama bergetar dengan kencang, keringat kami bersatu dan seluruh ruangan dipenuhi oleh suara erangan dan jeritan kenikmatan yang kami dapatkan pada saat bersamaan.
 
Setelah tubuhku dan Tante  Vera  mulai tenang kembali, kulepaskan penisku dari vaginanya yang sudah sangat basah, lalu kubersihkan vagina yang penuh dengan cairan kenikmatan kami berdua dengan sedotan dan jilatanku, kujilati sampai bersih dan sayup-sayup kudengan erangan pelan Tante  Vera  yang memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang baru saja dia dapatkan.
 
Setelah bersih kurebahkan tubuhku disamping Tante  Vera , lalu kupeluk dia dan kukecup pipi Tante  Vera . “Ahh.. terima kasih sayang.. terima kasih daun mudaku.. uhh.. rasanya tubuhku ringan sekali bagaikan kapas yang masih terbang diawang-awang, ahh.. nikmat sekali tadi kurasakan, kamu memang pintar sayang, baru sekali ini kurasakan orgasme beruntun seperti tadi, sampai lemas tubuh Tante” kata Tante Vera  sambil membuka matanya dan tersenyum padaku.
 
“Ah Tante  Vera  bisa aja.. aku juga tadi nikmat sekali, kedutan dinding vagina Tante  Vera  membuat penisku merasakan seperti diremas-remas, nikmat sekali” balasku sambil kuusap keringat yang ada di keningnya dan kukecup kening Tante  Vera , lalu aku bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang penuh dengan keringat dan disusul oleh Tante  Vera  dan kamipun saling membersihkan tubuh.

JagoanPoker

Selesai membersihkan tubuh dan dalam keadaan masih bugil kami lalu menyantap makanan yang tadi dipesan oleh Tante  Vera  sambil bercakap-cakap dan bercanda, sedangkan tangan Tante  Vera  tidak pernah lepas dari selangkanganku.
 
Selesai makan kami melanjutkan percakapan kami diatas tempat tidur sambil saling memeluk hingga akhirnya kamipun tertidur untuk memulihkan tenaga yang akan membuat pertarungan berikutnya lebih seru lagi. Dan mulai sejak itu jadilah aku daun muda kesayangan Tante  Vera  dan Tante Meri.

KlubDewasa Cerita Seks, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerita sex Terbaru.

Tags

You may also like...

SPONSORS
SPONSORS

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...